Monday, 1 April 2013

PROLOGUE

Awalnya blog ini hanya bercerita tentang pendakian gue di Rinjani, gunung api tertinggi kedua di Indonesia, karena setelah dipikir-pikir kalau disimpan di blog asli gue, bakal tercampur sama postingan yang lain dan susah dicari. Jumlah postingan awal hanya 12, sejumlah postingan mengenai Rinjani. Gue pikir blog ini hanya bakal diisi oleh cerita Rinjani, karena nggak berharap bisa mendaki ke gunung-gunung tertinggi lagi. Tak disangka, selang 10 bulan setelah pendakian Rinjani, gue dikasih kesempatan ke Semeru, gunung api tertinggi ketiga di Indonesia, bersyukur banget akhirnya dua mimpi dari SMA bisa kesampaian. Lebih tidak disangka lagi, 6 bulan setelah turun dari Semeru, gue dikasih kehormatan untuk mendaki gunung api tertinggi Indonesia, Kerinci. Luar biasa banget. Ketiga puncak gunung api tertinggi Indonesia bisa gue jejak dalam waktu satu setengah tahun. Nggak ada bayangan sama sekali sewaktu berangkat ke Rinjani bakal seperti ini.
Jadi pada akhirnya halaman ini dibuat khusus untuk cerita ketiga pendakian yang super amazing itu. Cerita pendakian Rinjani, Semeru, dan Kerinci. Kalau nanti gue diberikan lagi kesempatan untuk mendaki gunung-gunung tertinggi lainnya, mungkin blog ini akan bertambah lagi postingannya. Cerita yang gue tulis di halaman ini diceritakan secara kronologis. Kalau menurut gue cukup panjang lebar dan cukup mendetail, karena gue suka inget hal-hal kecil dan gue ingin suatu saat nanti kalau gue baca lagi blog ini, gue tetep inget sama hal tersebut. Mungkin terkesan bertele-tele, tapi seperti kata pepatah, 'We write to taste life twice, in the moment and in retrospection' - Anais Nin.
So for now, happy reading :)

Thursday, 28 March 2013

Waktu Tempuh ala Nunu

Alhamdulillah gue sudah berhasil menjejakkan kaki gue di tiga gunung api di Indonesia. Sejujurnya pendakian pertama dan terakhir dari ketiga gunung tersebut, sebut saja Rinjani dan Kerinci, sama sekali dadakan dan nggak ada rencana dari jauh-jauh hari, padahal lokasinya jauh-jauh dan butuh persiapan yang banyak.
Berikut ini gue rangkum waktu tempuh gue selama ketiga pendakian. Ini jalan versi gue ya, yang jalannya lemah gemulai dan kemayu hehe.

Rinjani
Sembalun Lawang – Pos 1 (Pemantauan) = 21:00-24:00 (3 jam)
Pos 1 (Pemantauan) – Pos 2 (Tengengean) = 08:30-09:30 (1 jam)
Pos 2 (Tengengean) – Pos 3 (Padabalong) = 09:30-12:00 (2.5 jam)
Pos 3 (Padabalong) – Plawangan Sembalun = 14:00-20:00 (6 jam)
Total waktu naik lewat Sembalun ± 14.5 jam (termasuk istirahat siang sekitar 2 jam)
Perjalanan summit attack = 02:30-09:00 (± 7.5 jam)
Plawangan Sembalun – Sagara Anak = 14:20-19:30 (± 5 jam)
Sagara Anak – Plawangan Senaru = 15:00-18:00 (3 jam)
Plawangan Senaru – Pos 3 (Mondokan Lokak) = 18:00-20:00 (2 jam)
Pos 3 (Mondokan Lokak) – Senaru = 09:00-12:00 (3 jam)
Toal waktu turun lewat Senaru ± 13 jam

Semeru
Ranu Pane – Ranu Kumbolo = 14:40-19:00 (±4.5 jam)
Ranu Kumbolo – Kalimati = 09:10-13:00 (±4 jam)
Kalimati – Arcopodo = 00:00-01:05 (±1 jam)
Total waktu naik ± 10 jam
Perjalanan summit attack = 01:30-06:00 (± 5.5 jam)
Arcopodo – Kalimati = 09:15-09:55 (40 menit)
Kalimati – Ranu Kumbolo = 14:45-16:45 (2 jam)
Ranu Kumbolo – Ranu Pane = 10:45-14:20 (4 jam)
Total waktu turun ± 7 jam

Kerinci
Pintu Rimba – Pos 1 = 07:10-07:50 (40 menit)
Pos 1 – Pos 2 = 07:50-8:30 (40 menit)
Pos 2 –Pos 3 = 08:35-09:20 (45 menit)
Pos 3 – Shelter 1 = 9:25-11:06 (1 jam 40 menit)
Shelter 1 – Shelter 2 = 13:05-16:50 (± 4 jam)
Total waktu naik ± 10 jam (termasuk istirahat siang sekitar 2 jam)
Perjalanan summit attack = 03:10-07:20 (± 4 jam)
Shelter 2 – Shelter 1 = 10:40-12:10 (1.5 jam)
Shelter 1 – Pos 3 = 12:40-13:26 (46 menit)
Pos 3 – Pos 2 = 13:56-14:22 (26 menit)
Pos 2 – Pos 1 = 14:37-14:51 (14 menit)
Pos 1 – Pintu Rimba = 14:51-15:11 (20 menit)
Total waktu turun ± 5.5 jam


Perbandingan waktu berangkat : summit : turun (nggak termasuk jalan turun dari puncak)
Rinjani                  = 14.5    : 7.5        : 13         = ± 35 jam
Semeru                = 9.5      : 5.5        : 7           = ± 22 jam
Rinjani                  = 10        : 4           : 5.5        = ± 19.5 jam

Part 3 - Prologue Kerinci

Part ini part terakhir dari *ceritanya* cerita trilogi tiga puncak gunung api tertinggi Indonesia gue. Cerita pendakian Gunung Kerinci. Pendakian ditutup dengan perjalanan yang luar biasa di Gunung Kerinci dan dilanjut dengan city traveling keliling Sumatera Barat. Bener-bener trip yang luar biasa banget, I love the trip soooooo much haha.
Anggota timnya gue, Fanny, Borok, dan Beny, sama superguide kami, Mas Itong. Ditambah juga tim darat Bukittinggi yang baik banget, Mbak Vina sama Mas Hasnim.

Pendakian Kerinci, 1 Maret 2013 - 7 Maret 2013

Day 1 – Jumat, 1 Maret 2013

Satu hari sebelum keberangkatan, seperti yang dulu, gue riweuh sama urusan yang ga ada hubungan langsung sama pendakian. Minta tolong sana-sini, nego sana-sini, nunggu sana-sini, akhirnya selesai lah urusan-urusan itu, nggak selesai sih, cuma gue tinggal sementara hehe. Nggak sempet packing beneran, asal masukin aja semua bawaan ke carrier. Berangkat ke meeting point dianter Bapak jam 10 malem, ke rumah Beny.
Di rumah Beny ada Fanny sama Borok – tim berangkatnya, sama ada Muba, Putro, dan Rendy. Gue mulai packing, dibantuin Fanny. Matras dimasukin ke carrier, udah lama banget ga packing cara begini, biasanya matras udah aja di luar haha. Beny sama Borok juga masih packing, bingung apa aja yang ga perlu dibawa, soalnya satu lagi anggota tim kami udah di Padang, dan ga tau apa aja yang dia bawa. Beres packing, Putro udah balik, kami berenam cabut sarapan, jam setengah 1 pagi haha.
Balik ke rumah Beny, gue sama Fanny tidur sebentar, jam 2 kurang bangun. Beny sama Borok udah pada mandi, kami ikutan mandi. Gue mandi terakhir, sekenanya, udah jam 2 lewat banyak, kami rencana berangkat ke Damri setengah 3. Tepat jam 2:26 pagi kami berangkat menuju Damri dianter bapaknya Beny.
Sampe di pool Damri loketnya masih tutup, tapi bis pertama udah siap berangkat. Sekira jam 3 kurang kami berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta. Gue nyoba tidur di bis; kurang berhasil karena kedinginan haha.
Kami sampe di Terminal 3 Soetta jam 4 kurang. Borok nyari kopi dulu, Beny entah hilang ke mana dulu. Jam setengah 5 kami cek in di counter Mandala ke Padang. Timbang barang buat dimasukin bagasi, Beny pertama 10.5 kg, gue kedua 12.3 kg, Fanny ketiga 12.5 kg, Borok 12.5 kg. Nggak ketauan ya siapa yang bawa tenda haha. Beres cek in, kami naik ke ruang tunggu terminal 3, duduk di depan gate E, nunggu boarding jam 5:05 menurut boarding pass-nya.
Jam 5:05 kami dipanggil ke pesawat, boarding pass-nya Beny sempet keselip, ketinggalan di tas gue hehe. Keluar gate, naik bis, diantar ke pesawat. Naik lewat tangga belakang, kami duduk di tengah pesawat. Jam 6 kurang pesawat take off, harusnya sih jam 5:35 take off-nya. 80 persen waktu gue di pesawat, gue habiskan dengan tidur haha, ngantuk banget. Pas udah di atas Sumatera, sekitar 15 menit sebelum landing gue baru bangun.
Sampe di Bandara Internasional Minangkabau sekitar jam 7:20. Yeay, akhirnya gue menjejak tanah Sumatera juga :D Nungguin barang-barang bagasi, dan coverbag-nya Fanny hilang. Yak gue ada temennya, coverbag gue juga ketinggalan di rumah karena nggak ketemu pas gue mau berangkat hehe. Fanny langsung bete soalnya itu carrier plus covernya punya Cupu, bukan punya dia. Keluar dari bandara dijemput temennya Beny yang juga anggota tim Kerinci, Mas Itong. Kami naik bis (yang mirip bis tuyulnya Tegal) dengan ongkos Rp18.000 dari bandara ke kosannya Mas Itong, di daerah belakang Polda Sumbar, nama jalannya Jalan Padang Pasir.
Sampe di kosan, kami cek-cek bahan makanan yang belum ada dan rencananya emang mau beli di sini. Bikin list belanjaan, terus Beny sama Mas Itong berangkat ke pasar. Pas mereka lagi belanja, tiba-tiba Beny telepon. Kata Beny, gue sama Fanny bakal dipindah ke kosan temennya Mas Itong yang cewe, soalnya kata ibu kosannya Mas Itong, cewe-cowo ga boleh barengan (kalo gue nggak salah tangkep sih begitu). Kami dijemput sama Mas Angga, temennya Mas Itong juga, ke kontrakannya Mbak Dina. Di sana berasa terdampar banget haha, Mbak Dinanya juga cuma nyambut kami datang terus berangkat ngantor, jadi cuma berdua doang.
Jam setengah 12 akhirnya kami dijemput orang-orang pake mobil travel. Barang-barang dan carrier-carrier udah di dalem mobil, kami dibeliin coverbag baru juga haha. Cabut dari kontrakan Mbak Dina mampir dulu di tempat travelnya, ganti supir sama beli minum buat perjalanan Padang-Kresik Tuo. Jam 12 kurang sedikit kami berangkat menuju Desa Kresik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Mas Itong duduk di depan biar Uda supirnya ada temen ngobrol, gue bertiga di tengah sama Fanny dan Borok, Beny di belakang sama carrier dan barang-barang. Harga travelnya Rp450.000.
makan siang menjelang sore di Danau Kembar
Perjalanannya bikin speechless. Baru seperempat perjalanan udah ketemu tiga kecelakaan. Kata Uda, jalur yang kami lewati ini adalah jalur tengah Sumatera. Kecelakaan pertama, elf nyerempet bis pas banget di sebelah kami, suaranya bergeletrak *bahasa apa ini* keras. Kecelakaan kedua kami liat truk muatan terguling ke kiri jalan, untungnya bukan jurang, ngeri banget. Kecelakaan ketiga sewaktu kami habis break makan di daerah Solok, di deket Danau Kembar, tetiba motor jatuh sendiri gara-gara ngerem di jalan berpasir, kata Borok sih kakinya ketimpa motornya, eww ngilu. Jalannya sendiri perpaduan antara TNBTS sama TNGR, muter, belok, naik letter U, letter W, letter S, dan entah letter apa lagi yang ngerungkel-ngerungkel.
'teman perjalanan'
Selain bikin adrenaline rush, perjalanannya juga kece banget. Di luar dari duduk di antara dua manusia yang berantem mulu (baca: Fanny sama Borok), view-nya keren banget lah. Lewatin Danau Kembar – Danau Atas sama Danau Bawah yang kata Beny dan Borok mirip Sentani, bukit-bukit yang mirip Sembalun-nya Rinjani, tambang-tambang pasir, dan banyak banget view yang bikin mata gue melotot senang macam lihat duit. Paling heboh waktu Kerinci udah keliatan di jalan, semua langsung ‘wih-ckck-waw’. Gue yang duduk di bangku tengah sampe glosor-glosor di kursi, pengen liat Nci. Gagah dan tinggi banget. Sambil jalan, Borok berusaha fotoin Kerinci, eh Uda pengertian banget sama kami, Uda berentiin mobil, ngasih waktu buat foto, langsung lari keluar semua :)
masih agak jauh
Kerinci and us :)
Puas foto, kami lanjut jalan lagi, Kerincinya makin jelas keliatan. Nggak lama, kami lewatin perbatasan Provinsi Sumatera Barat – Jambi. Jalanannya masih letter ngerungkel dan samping kanan-kirinya semak semua.
Sekitar jam setengah 7 malam, kami lewatin Tugu Macan, whoa! Sudah sampai ternyata. Nggak lama setelah lewatin tugu, mobil berhenti. Yak, kami sampai di tempat nginap sebelum besok pagi mulai jalan, homestay Paiman. Turun dari mobil langsung turunin semua barang, dari carrier sampe kantong keresek. Setelah dikumpulin di depan jalan masuk homestay, bawaan kami banyak bangetbanget ternyata hahaha.
Kami tidur di kamar lantai atas, tangganya agak ngeri soalnya anak tangganya jauh-jauh haha. Dari ruang atas, Kerinci keliatan jelaaas banget, dengan background warna lembayung, cantik. Masukin barang, rapiin barang dikit, terus kami mandi pake 'air kulkas’, dingin banget. Guyuran terakhir itu badan beku rasanya. Udah seger lagi, kami packing, bagi-bagi logistik, pisahin barang yang mau ditinggal di homestay, sambil ngomongin rencana pendakian.
Semua beres, kami istirahat, nggak tau sih kamar sebelah masih ngapain, kalo gue sama Fanny sih tidur, sekitar jam setengah 11. Tidur pake jaket dan selimut super tebel, dingin sudah padahal masih di bawah. Rencananya besok pagi kami pengen start jalan jam 5, soalnya kami prediksi jalan kami bakalan lama haha. 
Selamat malam, Kerinci

Day 2 – Sabtu, 2 Maret 2013

Rencana berangkat jam 5 subuh gagal. Gue kebangun jam 3, tidur lagi, tau-tau udah setengah 5 aja. Kamar sebelah juga masih sepi. Sekitar jam setengah 6 baru semuanya bener-bener bangun. Kamar sebelah ternyata udah pada bangun dari jam 4 gara-gara alarm Borok bunyi tapi orangnya malah tutup kuping pake bantal. Mandi pake air kulkas lagi, makan sarapan yang udah disiapin sama ibu homestay, packing, sekitar jam setengah 7 kami udah siap. Mobil bak yang mau anterin kami juga udah siap dari jam setengah 5, karena kami emang udah pesen sama Mbak Tika yang bantuin segala macemnya buat kami di homestay.
foto sama Nci dulu :))
Jam 7 kurang 10 kami naikin carrier ke mobil bak setelah foto dulu sama Nci dengan cuaca yang cerah sekali. Cabut dari homestay, depan Tugu Macan minta berenti dulu, foto lagi haha. Puas foto lanjut jalan lagi ke pintu rimba. Perjalanan naik mobil baknya dingin sekali, tapi view-nya mengalahkan angin yang menggelitik kulit *halah*. Arah depan, Kerinci dengan gagahnya menyambut kami, arah belakang matahari mulai meninggi, banyak banget berkas-berkas cahayanya, nice.
gue di Tugu Macan coy!
Kami sampai di tempat mentok dianterin pake mobil jam 7:10. Lima menit kemudian kami mulai jalan setelah berdoa mohon keselamatan. Jalan sampe pintu rimba mulai ngos-ngosan sedikit, gak terlalu naik ko. Dan perjalanan luar biasa kami pun dimulai :)
matahari Kerinci
Untuk sampe puncak Kerinci, kita harus lewatin 3 pos dan 3 shelter. Ketiga pos jaraknya lumayan deket, begitu udah masuk shelter-shelter, yaa lumayan, lumayan apapunlah yang nggak enak pokoknya hehe. Dari pintu rimba sampai Pos 1, kami menghabiskan waktu sekitar 40 menit. Pos 1 sampe Pos 2 sekitar 40 menit juga. Pos 2 sampe Pos 3 juga sekitar 45 menit.
Pos 2
Selama perjalanan pintu rimba sampe pos 3, gue masih bisa posting di grup whatsapp keluarga. Jadi tiap break, gue ngirim report terus, ‘udah lewat Pos 1’ ‘ntar malem mau camp di shelter 2’ blablabla. Oh iya treknya sendiri hutan rapat, basah, lembab, mirip trek Cimelatinya Salak, Gunung Putrinya Gede sama Senarunya Rinjani. Banyak banget pohon yang batangnya besar, salah satunya malah ada batang pohon yang bentuknya cekung, jadi kaya meluk orang yang berdiri di depan pohon itu.
Waktu kami lagi break setelah Pos 2, kami ditemani oleh nyanyian pagi monyet-monyet di sana, ramai sekali. Kami semua senyum-senyum sambil dengerin. Borok ngerekam suaranya terus di share ke Shandra lewat BBM, Shandra nangis terharu katanya hihihi. Suara monyet sama suara burung sahut-sahutan, indah banget suara alam Kerinci :) Ada lagi waktu kami break setelah Pos 3 kami ketemu sama burung murai yang imut-imut, warnanya kuning, kepalanya biru, ah keren lah pokoknya diversity faunanya. Soalnya liat langsung gitu, biasanya kan paling liat di petanya doang, daerah sini faunanya ini, daerah sana faunanya itu, kalo ini liat dan denger langsung hehe.
dengerin suara tenyom sambil update kabar :D
murai :)
Waktu di Pos 3, kami ketemu sama rombongan orang Palembang, bertiga cowok semua. Salah satu dari mereka itu ada yang mirip sama yang ketemu gue-Resti-Imam waktu di Matarmaja ke Semeru bulan Agustus kemaren, orang Palembang juga kan. Tadinya gue mau nanya, tapi setelah dilihat-lihat lagi ternyata beda orang hehe. Cabut dari Pos 3 jam 9:40 sampe Shelter 1 jam 11:05, kurang lebih 90 menit. Nyampe Shelter 1 masih laporan sama orang rumah haha.
Pos 3
Kami istirahat siang di situ, bongkar  makanan yang memang ditaro di atas. Kami masak telor acak pake cabe, bawang, sama daun bawang banyak banget, telornya cuma dua. Masak beras yang beli di Padang kemarin, ternyata berasnya boros air banget. Air yang gue masukin sebelum dimasak langsung abis cepet banget, ditambah air lagi terus tapi udah susah mateng, akhirnya makan nasinya sejadinya aja. Waktu kami lagi masak, rombongan bapak-bapak nyampe shelter 1, sekitar 6 orang deh kalo nggak salah, mereka lagi perjalanan turun. Kami ngobrol-ngobrol sedikit tentang cuaca di atas. Sama seperti keterangan rombongan Palembang tadi, ga disarankan banget camp di shelter 3 karena anginnya kencang. Kami pun fix mau ngecamp di shelter 2 nanti malam.
Masak di shelter 1
Jam 1:05 siang kami lanjut perjalanan ke shelter 2. Di sini nih trek nya mulai syedap. Pohonnya masih rapat, tapi tanahnya nggak terlalu lembab, dan jalannya nanjak teruus. Breaknya lebih sering, dan hampir setiap break semuanya megang hp, kecuali Mas Itong soalnya providernya ga ada sinyal haha. Beny anteng banget update kabar ke grup BBM Pasma, rame banget di grup, ngomongin Fanny-Borok, Borok ngedrop, kondisi cuaca sama jalan.
Habis break agak lama, sekitar jam 3, Beny jalan duluan ke depan bawa daypack yang dibawa Borok, sama mindahin botol-botol air yang ada di carrier Borok ke daypack dia. Beny ilang jalan terus ke depan, Mas Itong nge-lead sambil nge-sweep juga, Fanny belakang Mas Itong, gue belakang Fanny, Borok paling belakang. Jalannya naik terus, kaya tanjakan setannya Gede tapi ga beres-beres, ada juga yang kaya Senaru versi lebih kering, vegetasinya juga udah beda sama yang di bawah-bawah tadi, hutannya udah terbuka.
Sekitar jam setengah 4 kami manggil-manggil Beny, lama banget ga ada jawaban. Jam 4 lewat kami teriak ‘pus’, Beny akhirnya jawab, kayaknya dia udah nyampe shelter 2. Jam 4:20 menurut jam tangan gue, Beny nongol tanpa carrier, kata Beny shelter 2 sekitar setengah jam lagi. Dia turun lagi buat ngambil carrier Borok. Gue jalan terus, Mas Itong sama Fanny agak jauh di depan gue. Mendekati shelter 2, jalannya kayak ceruk, kanan-kiri batu.
jalan mendekati shelter 2
Jam 4:50 sore gue sampe di shelter 2. Whoah, akhirnya napas. Begitu nyampe semuanya langsung pada istirahat. Borok sampe terakhir, abis napas sebentar, dia langsung nyari spot buat tenda. Lurus dari arah kami datang, terlihat jalan ke shelter 3, wuih, sadis nampaknya, ceruknya lebih dalam daripada yang tadi gue lewatin.
finally, shelter 2!
Abis napas gue bantuin Fanny sama Borok bangun tenda. Tadinya udah dapet spot, di sebelah kiri jalur dan nggak jauh dari tanah lapang shelter 2. Pas kami lagi masang frame tenda, muncullah seorang pendaki lain, orang Sulawesi, sebelumnya kami memang udah tau ada rombongan Sulawesi yang naik satu hari sebelum kami. Dia bilang sama kami kalo semalem di tempat kami mau bangun tenda itu badai, anginnya kenceng, terus dia nyuruh kami pindah ke bawah, di sebelah tenda mereka.
Kami bangun tenda di sebelah tenda rombongan Sulawesi itu. Di situ ada kaya tiang-tiang besi gitu, bekas bangunan pos mungkin ya. Tempatnya memang lebih tertutup dari yang sebelumnya sih. Sambil bagun tenda, si rombongan Sulawesi itu cerita, mereka baru berangkat muncak jam 9 pagi. Dan pas kami nyampe shelter 2 tadi itu, sekitar jam 5 sore, sisa rombongan mereka baru nyampe shelter 2 lagi abis muncak. Katanya sih kemaren pagi cuacanya tuh kurang bagus, tapi berhubung lagi ada acara ekspedisi gitu, jadi tetep muncak, lagian jauh banget kan itu mereka dari Sulawesi. Sambil mereka cerita, tenda beres, matras buat tidur udah masuk, carrier-carrier udah di dalem tenda, matras buat dapur udah rapi. 
Gue, Fanny, sama Beny naik lagi ke tanah lapangnya shelter 2, sunsetnya bagus sekali :D Kami foto-foto dulu sebentar di situ. Balik ke tenda, bongkar bahan makanan, malam itu kami masak sayur sop, tempe goreng, sama sarden. Beres makan sama bersihin tempat makan, kami siap-siap tidur. Gue, Fanny, sama Borok tidur di dalem tenda, Beny sama Mas Itong tidur di luar. Sebelum tidur, kami sempet berunding, mau ngejar sunrise atau nggak. Gue sih nggak ketemu sunrise juga nggak masalah, yang penting muncak. Fanny pengen ketemu sunrise, akhirnya kami sepakat besok pagi mau berangkat jam 3 buat summit attack. Borok pasang alarm jam setengah 3. Kami pun tidur.
sunsetnya shelter 2 :)

Day 3 – Minggu, 3 Maret 2013

Alarm Borok bunyi jam setengah 3 kurang, orangnya mah nggak bangun. Setelah beberapa kali bunyi, gue sama Fanny akhirnya bangkit dari posisi tidur. Begitu nyawa udah ngumpul, Beny sama Mas Itong masak air anget buat bikin minum, gue sama Fanny ganti baju yang kami pake jalan kemaren dengan hanya ditutupin sleeping bag, meni rempong, hese hahaha. Jam 3 kami udah siap dengan kostum summit attack. Kali ini gue nggak bawa soulmate summit attack gue, si tas stroberi unyu, kasian dia udah uzur sekali, jadi nggak gue bawa hehe.
Gue, Fanny, Beny, sama Mas Itong udah siap, berdiri di sekitaran tenda. Borok nggak keluar tenda terus bilang dari dalem tenda kalo dia mau nyusul muncaknya. Daypack yang mau dibawa Borok akhirnya dibawa sama Mas Itong, Borok disisain air minum satu botol sama rokok. Gue mimpin doa sebelum berangkat, semoga lancar, semoga selamat, dan semoga sampai di puncak. Pukul 3:10 menurut jam tangan gue, kami berangkat summit attack.
Udaranya dingin, jelas, tapi belum terlalu berangin. Seperti yang gue liat pas nyampe shelter 2, trek menuju shelter 3 ini gilak sekali, lebih gilak daripada yang gue pikir. Jalannya ceruk semua, tapi ceruknya dalem semua, and we did climbing a lot a lot there. Fanny jalan paling depan, langsung ngilang ke depan, beda ya atlet manjat mah haha.
Awal perjalanan menuju shelter 3 ini gue lemes kelaperan hehe. Biasanya gue sebelum summit attack kan makan dulu, kali ini langsung berangkat, eh jadi lemes haha. Udah mah treknya ga beres, butuh energi ekstra, kelaperan pula haha. Untung ada roti di daypack yang dibawa Mas Itong, gue makan dulu tuh, sambil break juga. Gue nggak kebayang kalo kami mau ngecamp di shelter 3 atau paling nggak di space sekitar 15 menit sebelum shelter 3 kayak yang dibilang rombongan Palembang kemarin. Bawa-bawa carrier di trek yang nggak manusiawi begini, nggak kebayang lah gue.
Abis makan roti, tingkat kelemesan gue menurun, tapi tetep lambat mikir sama jalannya. Beny bilang santai aja jalannya, tapi gue kaga enak, yang lain kan kayak citah semua haha. Selain itu udara tipis banget, asli, susah banget buat napas. Makin bego kan jadinya gue haha.
Sekira jam 4 lewat sedikit, kami sampai di shelter 3, wuah, dahsyat lah itu treknya. Jalannya sih cuma satu jam, tapi sadisnya, tiada ampun lah. Sebelum kami sampai di tanah lapangnya shelter 3, di sebelah kanan ada cahaya-cahaya sama suara-suara orang yang lagi ngecamp. Kayaknya ini orang-orang yang lewat waktu kami udah di tenda sekitar jam setengah 7 kemaren malem. Sakti banget ngecamp di situ, angin sama dinginnya kuat banget gitu.
Kami jalan ke tanah lapangnya, nggak ada tulisan shelter 3-nya, cuma ada tiang putih yang atasnya sudah berkarat. Kami nyari jalan ke air, menurut orang-orang yang kami temui sebelumnya kan di shelter 3 ini ada air. Karena nggak juga nemuin sumber airnya, Mas Itong, Beny, sama Fanny turun ke tempat camp orang-orang tadi buat nanyain air, gue nunggu di tanah lapang.
Sambil nungguin mereka, gue merhatiin langit di kanan gue. Ternyata entah di suatu tempat di sebelah timur sana, kilat menyambar-nyambar dan awannya juga tebal. Untung awan di atas kami cerah, bulan masih keliatan, bintang juga terlihat. Lima menit nunggu, mereka bertiga balik ke tempat  gue nunggu. Beny langsung nyari sumber air itu ke arah atas, Mas Itong ngikutin. Fanny pengen pipis, gue tungguin Fanny, dan sesungguhnya gue mules haha.
Beny sama Mas Itong nggak balik-balik, nggak lama mereka nyuruh kami berdua naik ke atas juga. Jalannya nggak jelas, jadi cuma ngikutin cahaya headlampnya Beny. Mereka nggak nemuin sumber airnya, jadi kami lanjut jalan. Beny nyuruh gue jalan paling depan karena gue paling kemayu jalannya hehe. Kami lanjut jalan dari shelter 3 sekitar jam 4:40. Anginnya menusuk banget, kalo waktu di Rinjani angin dan dingin memang, tapi yang ini angin, dingin, dan menusuk, ditambah oksigen terasa banget tipisnya.
cahaya dari suatu tempat di bawah sana
Gue jalan pelan-pelan banget, treknya mirip trek awal Rinjani tapi lebih curam sedikit, jalur yang gue injek kerikil kecil-kecil banget. Kami istirahat sekitar 2-3 kali, nyari ceruk-ceruk yang bisa lindungin kami dari angin tapi nggak terlalu dalem juga. Kami jalan beriringan, bener-bener barengan, soalnya nggak ada pendaki lain yang naik bareng kami sampe sekitar seperempat perjalanan dari shelter 3.
break
Sekitar jam 5 lewat ada tiga orang pendaki yang nyalip kami, kayaknya mereka rombongan yang tadi ngecamp di shelter 3, gue lupa mereka dari Jogja atau Jambi gitu. Gue jalan dengan terlalu banyak mikir, menimbang, memilih, baru kemudian memutuskan hahaha. Beny udah pindah posisi di depan gue, Fanny deket gue, kadang duluan kadang di belakang, Mas Itong nungguin kami – atau tepatnya gue, jalan.
Jam 6 kurang 5, gue jalan bertiga sama Fanny dan Mas Itong, pas kami nemuin Beny, dia lagi shalat Shubuh, di tempat yang lumayan datar. Beny beres shalat, kami nyusul shalat juga. Waktu duduk tahiyat akhir gue oleng, nggak tau kalo tanahnya ternyata miring, untung masih bisa seimbang, kalo kaga, hemm. Beres shalat gue liat GPS-nya Mas Itong, kami udah di ketinggian 3582 mdpl.
Sekira jam setengah 7, kami nyampe di tempat datar yang lumayan luas. Sunrise udah muncul! :) Beny sama Fanny udah sampe duluan, gue riweuh lepasin celana raincoat gue yang robek panjang banget haha. Dari sini mulai tercium bau belerang.
Kalo yang gue rasain sih ya, trek ini memang bikin cape dan butuh ketepatan milih batu yang bener biar nggak jatuh, karena batuannya lepas semua. Tapi menurut gue nggak bikin stres kayak Rinjani. Nggak bikin stresnya gini, dalam kondisi jalan naik, gue jalan di belakang Fanny sama Beny, gue liat mereka jauh di atas gue, tapi begitu gue jalanin ternyata nggak sejauh yang gue duga. Jalan beberapa menit, udah ketemu mereka. Beda banget sama Rinjani, yang kelihatannya jauh, tapi ternyata jauh banget haha. Semeru juga gitu, kayaknya liat orang tuh jauh gitu, dan ya memang jauh, cukup lama buat nyampe ke orang itu. Yaa, itu sih yang gue rasain ya.
Meskipun demikian, jalan di sini harus ekstra hati-hati. Batunya kadang nggak jelas, kelihatannya kuat buat diinjak, ternyata pas diinjak ambrol. Biasanya batu yang warnanya merah itu cukup kuat, tapi nggak semuanya.
Oke balik lagi ke cerita perjalanan. Beny sama Fanny foto-foto sunrise dulu di tanah lapang itu. Sayang, sunrise-nya nggak terlalu berwarna, mungkin karena hujan di arah timur tadi. Pemandangan di kejauhan mulai nampak. Bukit Barisan, Danau Gunung Tujuh, Danau Kerinci, dan satu danau lagi nggak tau danau apa. Indaaaaah banget :)
sunrise di atas Danau Gunung Tujuh :)
Kami lanjut jalan lagi, ketemu sama beberapa pendaki lain yang nyalip kami. Kami break beberapa kali, makan permen, bertanya-tanya kapan Borok bakal nyusul. Sewaktu udah jalan lagi, Beny nyuruh gue liat ketinggian kami sekarang di GPS yang gelantungan di atas daypack Beny, gue nyamperin Beny. Whoa! Sudah 3754 mdpl, gue spontan teriak, “Rinjani udah lewat!” Beberapa pendaki di depan kami langsung nengok ke gue, yah malu kan gue noraknya keluar hahaha. Di titik ini, gue juga sempet hampir nangis lagi, gara-gara liat hamparan ciptaan Allah di belakang gue, subhanallah banget :)
Beny jalan paling depan, Fanny nyusul, gue agak terbelakang dari Fanny, Mas Itong dengan sabar nungguin gue jalan hehe. Sekitar jam 7:10, kami lihat di atas orang-orang udah pada berdiri-berdiri. Mas Itong langsung bilang kayaknya itu puncak, Beny mempercepat gerakannya, ngecek, Mas Itong nyusul Beny, gue sama Fanny masih terseok-seok. Beny bilang dari atas kalo itu memang puncaknya. Gue sempet nggak percaya, trauma Rinjani, kiarin tinggal dua belokan lagi, iya sih belokan kanan sama kiri, tapi entah berapa kali kanan-kirinya, huft haha. Tapi ternyata memang itu puncaknya, Beny yakinin sekali lagi. Gue ikutan mempercepat langkah, sok-sok lari, terus berhenti ngos-ngosan lagi haha.
And, yes, 3rd March 2013, 07:20 GMT + 7, I reached Indonesia’s highest volcano as my sixth peak, Mount Kerinci 3806 m asl :’D Alhamdulillah.
at the top of Sumatera :D
Seneng banget-banget itu mah, akhirnya si gadis tipis-kurus-kecil ini berhasil meraih ketiga puncak gunung impiannya, dalam waktu satu setengah tahun, Alhamdulillah banget, ternyata masih dikasih kesempatan melihat Indonesia dari atap-atap pulaunya, masih dikasih kesempatan berdiri di atas gunung-gunung api tertinggi di Indonesia, padahal dua tahun yang lalu sama sekali nggak kepikir bisa kayak sekarang ini, dua tahun yang lalu udah hopeless bisa naik gunung lagi, tapi yah, there I was, on that gorgeous highest volcano in Indonesia.
Setelah tersenyum selebar-lebarnya, gue duduk di sebelah Fanny, terus Fanny telepon ibunya, ya ampun masih ada sinyal aja hahaha. Beny sama Mas Itong lagi foto-foto. HP gue ternyata nggak bersinyal, gue nebeng Fanny telepon Mama di rumah, kalimat pertama setelah halo adalah, “Mama, Teteh di puncak Kerinci.”  Bahagia banget gue bilang itu ke Mama. Inget waktu gue pulang dari Semeru Mama tetiba bilang ke gue, “Teh, kalo Kerinci mah Mama nggak ngijinin ah.” Tapi ternyata di sini lah gue, mungkin sekitar setengah tahun setelah Mama ngomong begitu :’) Hah, cukuplah haru-harunya.
Gue ikutan foto-foto juga, Danau Gunung Tujuh kelihatan jelas. Fanny nyusun batu ngebentuk nama temennya. Gue juga nyusun batu, nyusun nama adek gue, karena memang dipaksa sama dia gara-gara gue lupa bikin nama dia di pasir Mahameru haha. Selain kami ada rombongan 5 orang kalo nggak salah, yang adalah orang Jambi. Gue nyamperin Beny sama Mas Itong yang lagi foto-foto di puncak sebelah barat. Gue ikutan foto, pake slayer, foto sama kawah Kerinci, foto sama Danau Gunung Tujuh di kejauhan, dan fotoin tas slempang gue di puncak pertamanya hehe.
his first peak
Kami di puncak lumayan lama, karena nungguin Borok. Jam setengah 9 kami masak air terus bikin minuman anget, Beny bawa trangia mininya. Di puncak kami ketemu sama tiga rombongan lain, ada yang dari Jambi tadi, yang dari Jogja, sama satu rombongan lagi yang nggak tau dari mana soalnya mereka nyampe puncak lumayan lama setelah kami.
kawah Kerinci
Salah satu view yang kelihatan dari puncak selain keindahan Pegunungan Bukit Barisan, danau-danau, dan tentunya kawah Kerinci yang sering mengepulkan asap belerang, ada juga susunan batu yang unik. Jadi, bebatuan itu disusun membentuk nama, sama kayak yang tadi gue sama Fanny bikin, tapi versi jauh lebih besar. Dari puncak, nama-nama yang tersusun dari batu-batuan merah seperti yang kami injak-injak selama perjalanan ke puncak itu jelas kebaca – kecuali sama gue yang harus pake kacamata dulu hehe.
susunan nama dari batu
Kami nunggu Borok nyampe puncak dari awal masih terang dan panas sampe puncaknya tertutup kabut. Sempet ngasih kabar terakhir lewat BBM udah di shelter 3, sempet teriak-teriakan juga. Gue cek HP ternyata dapet sinyal dan gue bisa update twitter hahaha. Puncak udah bener-bener penuh sama kabut waktu Borok nyampe puncak jam 9:55. Kami langsung foto Pasma dan foto tim dengan background kabut. Abis foto, kami kumpul dan berdoa, akhirnya ritual ini lagi, dan Alhamdulillah-nya di puncak gunung api tertinggi Indonesia :)
foto rusuh
Borok cuma 10 menit di puncak, jam 10:05 kami turun dari puncak, kabutnya bikin udara jadi dingin luar biasa, udah nggak mau berlama-lama lagi di puncak. Perjalanan turun dari puncak ini seru, menyeramkan, nggak jelas, dan penuh perdebatan. Seru karena semua orang jatuh, nggak ada yang nggak jatuh. Borok sama Mas Itong apalagi, heboh banget jatuhnya, ngeri sih lebih tepatnya. Nggak jauh dari tanah yang luas itu, kami berhenti dulu, kabut udah hilang, puncak keliatan lagi, foto-foto dulu sambil istirahat.
cerah sesaat
semacam foto pilkades :))
Lanjut jalan lagi, kabut turun lagi, lebih parah dari sebelumnya, nggak hilang-hilang sampe alis dan bulu mata kami berembun, dinginnya nggak usah ditanya. Kami jalan setengah buta menuju shelter 3. Selain bikin udara dingin, kabut juga bikin jarak pandang amat sangat pendek. Fanny jalan paling depan, Beny di belakang Fanny sambil terus mantau jalur kami di GPS, gue di tengah, Borok sama Mas Itong di belakang. Kalo Beny sama Fanny mulai hilang dari pandangan, gue otomatis teriak minta tunggu, soalnya bener-bener pendek banget jarak pandangnya. Di sini juga terjadi perdebatan antara Borok dan kami. Borok nggak ngerasa naik lewat jalur turun ini, sedangkan kami inget kami lewat sini, ini tempat kami istirahat, ini jalur yang pasir serodot kaya Semeru-Rinjani, dan sebagainya.
turun di antara kabut
Kami sampe di shelter 3 sekitar satu jam dari puncak, dengan perasaan deg-degan karena jalurnya nggak keliatan. Langsung turun ke shelter 2, dengan trek yang isinya tebing semua itu. Semua langsung komen, gimana caranya tadi pagi gelap-gelap kami lewat situ haha. Ternyata parah sekali memang trek shelter 2-shelter 3 itu, apalagi buat yang kakinya nggak panjang kayak gue hehe. Kami melipir, climb down, loncat, bahkan gue sempet pake posisi kukang yang lagi gelantungan buat turun saking jauhnya. Tau kan posisi kukang yang lagi gelantungan gimana? Kalo kaga tau googling deh, terus bayangin gue kayak begitu haha.
melipir
Selain nggak manusiawi, trek ini juga agak mistis hehe, nggak taulah, kerasanya begitu. Ada satu daerah yang kayak gua dari ranting pohon kecil-kecil, kalo kata Fanny-Beny-Mas Itong sih jalan lubang tikus. Kami sampe di shelter 2 jam 13:15, sekitar dua jam dari shelter 3, sedangkan tadi pagi shelter2-shelter 3 kami butuh waktu satu jam. Rasanya baru kali ini naik lebih cepet daripada turunnya haha.
lubang tikus
entah yang mana jalannya
Awalnya kami sempet terpikir buat turun langsung ke bawah hari itu juga. Namun dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk turun besok pagi, rencananya sih jam 6 udah siap jalan. Gue lagi-lagi terkena sindrom post summit attack kayak waktu di Rinjani dan Semeru, pengen nabung hahaha. Sisa hari itu kami habiskan dengan cerita-cerita perjalanan tadi, masak, dan makan, sekalian juga masak nasi untuk besok, antisipasi kalo males gerak pagi-pagi haha. Matahari tenggelam sore hari itu digantikan dengan hujan deras macam di Bogor, walaupun warna emasnya masih kelihatan dari teras tenda kami.
Malam itu tenda diisi empat orang dan gue protes nggak mau tidur sebelah Borok soalnya Borok nggak bisa diem haha. Fanny di pojok, kepalanya sebelahan sama kaki gue, kepala gue sebelahan sama kakinya Mas Itong, Borok paling pinggir, Beny di luar. Jam 10 malam kami tidur.

Day 4 – Senin, 4 Maret 2013

Seperti rencana start pendakian berangkat jam 5 subuh yang gagal kemarin, rencana turun jam 6 juga gagal. Hujan yang turun dari kemarin magrib belum berhenti. Gue sama Fanny udah terbangun dari jam 5 kurang, tapi karena denger di luar hujan, kami lanjut tidur ayam. Jam setengah 7 kami berdua udah nggak bisa tidur lagi. Di luar udah terang, masih hujan, dan tenda basah. Kami grasak-grusuk di tenda dan rapiin alat tidur setelah bener-bener bangkit dari posisi tidur. Sisanya baru pada bagun jam 7, itupun masih pada mager, ngumpulin nyawanya lama banget.
Setengah jam kemudian kami mulai masak, nasi yang udah dimasak Beny tadi malam dibikin nasi goreng. Beres makan kami packing. Di luar masih hujan, kadang besar, kadang reda, tapi nggak berenti. Packing kali itu sungguh riweuh sekali. Tenda banjir karena memang bukan tenda buat cuaca hujan deras begitu, ditambah lagi tendanya juga sudah cukup berumur. Lantai tenda tergenang di beberapa spot, bagian bawah carrier yang gue pake juga basah.
Jam setengah 10 tinggal tenda yang belum di-pack. Gue sama Fanny keluar soalnya Fanny mau nabung haha. Kami nyari tempat ke arah sumber air shelter 2 yang katanya airnya udah nggak ada. Auranya agak mistis di situ, sampe kemarin pun gue nggak jadi nabung di situ. Gerimis masih berlangsung, kabut turun lagi, dingin.
Sewaktu kami balik ke tempat camp, tenda udah nggak ada, carrier-carrier udah berdiri di luar; Beny, Borok, dan Mas Itong udah berdiri siap berangkat. Hujannya udah tinggal serintik-dua rintik. Setelah berdoa, jam 10:40 kami cabut dari shelter 2. Sisa-sisa ceruk dilanjut ke trek yang mirip Gunung Putri versi basah dan berlumpur.
Gue agak sebel sama lumpur di bagian itu karena wujudnya nggak kayak lumpur pada umumnya. Lumpur yang sewajarnya kan menggumpluk macam tanah liat gitu kan ya, lumpur di trek yang udah deket shelter 1 sampe bawah pos 1 pun begitu bentuknya. Kalau lumpur yang ini, sebelum diinjak, penampakannya mirip batu, terlihat padat. Begitu gue menapakkan sepatu di atas ‘batu’ itu, blup, sepatu gue melesak masuk ke dalam lumpur, huft, memang nggak terlalu dalam sih. Dan sayangnya gue berkali-kali ketipu haha. Gue juga beberapa kali jatuh, celana cokelat terang yang gue pake berlumpur di sana-sini, udah kayak Capal haha.
Sekitar 5 menit sebelum shelter 1, rombongan kami yang tadinya agak kepisah tetiba numpuk, gara-gara sesuatu. Fanny jalan paling depan diikutin Benny, gue ditengah diikutin Borok, Mas Itong paling belakang. Fanny teriak heboh gegara Beny nunjukin sesuatu. Gue ikutan heboh, nanya ada apa. Beny balik nanya,
‘Lu tau kan lintah segede apa?’
Gue jawab kalem, ‘Iya, tau.’
‘Tuh lihat lintahnya Kerinci’
Astagfirullah -____- Gue rasa itu lintah paling besar yang pernah gue liat, badannya sebesar anak ular mungkin, warnanya merah, badannya garis-garis putih tipis samar, ujung mulutnya bergerigi kecil lagi megap-megap. Dan itu dia belum hisap darah, ga kebayang kalo udah hisap darah kayak apa wujudnya. Kata Beny awalnya dia ragu itu lintah, tapi pas dilihat ujung mulutnya itu, persis pacet/lintah. Iya, seburam-buramnya pandangan gue, gue masih bisa liat ujung mulut si makhluk ajaib itu.
ini lintahnya
Oke, cukup lintahnya. Kami sampai di shelter 1 sekira jam 12:10. Sekitar 10 menit kami istirahat di situ, datanglah 4 pendaki yang lagi naik, dua cowok sama dua cewek, nggak lama 1 cowok lagi nyusul. Begitu lihat kami lagi ngaso di shelter 1, mereka senyum terus nyapa kami, langsung memperkenalkan diri sendiri kalo mereka dari Malaysia. Kami salam-salaman, mereka bilang rombongan mereka ada 20 orang ditambah porter 10 orang. Kami berlima langsung waw, orang segitu banyak mau ditaro di mana di atas nanti, lahan shelter 2 kan nggak terlalu luas.
Beberapa orang rombongan mereka nyusul dateng, termasuk porter yang bawaannya sebesar-besar kulkas. Katanya sih salah satu dari para porter itu ada yang bawa 40 bungkus nasi ditambah sekian liter beras. Nggak kebayang lah beratnya kayak apa itu. Beberapa anggota rombongan Malaysia ada yang nyoba gendong carriernya Bapak Porter itu, jangankan digendong, bisa terangkat aja nggak, ckck.
Setelah ngobrol-ngobrol dan ngasih beberapa kabar situasi di atas, kami pamit lanjut perjalanan turun. Berangkat dari shelter 1 jam 12:40. Di jalan ketemu dengan sisa rombongan Malaysia. Jalannya udah manusiawi lagi, Alhamdulillah gue udah bisa jalan dengan lebih baik haha.
Kami mendarat di pos 3 sekitar 45 menit kemudian. Beny sama Borok nyampe duluan, mereka lagi ngobrol sama beberapa pendaki yang juga lagi jalan naik. Mereka orang Palembang, lagi-lagi kami ketemu orang Palembang, persis seperti waktu naik kemarin, ketemunya di Pos 3 haha. Kami ngobrol-ngobrol sambil ngasih kabar situasi di atas, ada siapa aja yang lagi camp.
Salah satu dari mereka ada yang nggak bawa logistik apapun, jalan pun pake jaket tipis, kaos, celana jeans panjang, dan pake sandal gunung doang. Katanya dia itu niat awalnya cuma mau anterin teman-temannya sampe Pintu Rimba, tapi di jalan tetiba jadi ikut akibat bujukan kawan-kawannya. Kebetulan sebelumnya dia udah pernah ke Kerinci, jadi dirayulah biar ikut dia ini.
Kami lanjut turun. Si abang yang nggak niat naik itu bilang kalo di deket pos 2 ada air terjun, dari pos 2 juga terlihat. Nah, masalahnya walaupun terlihat tapi tetep nggak tau seberapa jauh si air terjunnya itu haha. Perjalanan turun pos 3-pos 2 menghabiskan waktu sekitar 25 menit.
Di pos 2 kami sempet mampir di aliran sungai. Letak aliran sungainya di bawah pos 2, jalan nggak sampe 3 menit kami udah di pinggir sungainya. Dari situ terlihat air terjunnya, lumayan jauh sih. Kami bersih-bersih dulu sedikit di situ.
bersih-bersih
Kurang lebih jam 14:40 kami lanjut perjalanan. Jalan gue udah lumayan galat, entah berapa kali keseleo saking buru-burunya melangkah. Sampe pos 1 sekitar 15 menit kemudian, sempet ketemu lintah lagi selama jalan. Di pos 1 duduk minum sekitar 3 menit, lanjut jalan menuju poin terakhir, Pintu Rimba.
Jam 15:10 kami sampai di ujung hutan start pendakian. Kami semua langung berseru, ‘akhirnya…’ dan ‘alhamdulillah…’ haha. Di situ Beny, Borok, sama Mas Itong ngubungin Mbak Tika di homestay buat jemput kami. Gue sama Fanny lanjut jalan ke Pintu Rimba terus sampe tempat mobil bak kemarin antar kami. Kaki udah sengklek banget, kami jalan dengan gaya pinguin. Gue makin mirip Capal pulang pelantikan; celana dekil penuh lumpur dan jalan kikuk kayak pinguin hahaha.
Kami nunggu jemputan sekitar 10 menit. Gue udah nggak kuat pake sepatu akhirnya lepas sepatu terus ganti sandal, adem banget kakinya setelah ganti sandal. Di perjalanan, kami foto-foto dengan background Kerinci. Kami juga mampir di R-10, Balai Taman Nasional Kerinci Seblat.
R-10

thank you, Nci!
Tapi kantornya tutup, jadi cuma foto di depannya aja. Lanjut jalan, dadah-dadah sama Nci, gue berbisik dalam hati, ‘thank you dahling’ kayak waktu di Semeru haha.
celana gue!
Kami tiba di homestay sekitar jam 4 sore. Habis ngaso-ngaso sebentar di luar, kami naikin carrier ke atas lagi. Rencananya hari ini mau nginap satu malam lagi di sini, baru besok pagi lanjut perjalanan di kota. Setelah nyimpan barang di lantai atas, kami turun ke bawah lagi buat makan sore menjelang malam. Selesai makan, kami ngobrol-ngobrol. Gue nggak ngeh tetiba mereka udah ngomongin Kerinci dari sudut yang berbeda. Beny sama Borok paling banyak cerita, Mas Itong nambahin, Fanny sama gue cuma dengerin aja. Gue kaget juga sih, bahkan Beny bawa-bawa cerita waktu kami ke Rinjani sama Menu, Eko, Trizar satu setengah tahun yang lalu, tapi yaudahlah, udah selesai ini pendakiannya.
Sampe menjelang Magrib, mereka masih asik ngobrolin hal yang sama. Gue naik ke atas buat siap-siap mandi sebelum malam datang karena takut dinginnya menusuk lagi. Sebenernya tetap dingin mau mandi kapanpun juga, dingin banget malah, airnya lebih dingin daripada air kulkas kayaknya. Tapi begitu badan sudah kering, sudah pakai baju bersih, kerasa banget segernya, dinginnya sudah nggak terlalu terasa.
Gue selesai mandi, mereka berempat masih ngobrol, tapi udah pindah ke kursi atas dan lagi bicarain perjalanan kami selanjutnya. Gue nimbrung setelah selesai rapiin peralatan mandi. Tadinya kami mau nyoba ke Danau Kaco (Danau Cermin) atau Danau Gunung Tujuh, tapi mendengar bahwa harus jalan kaki sedikit, gue sama Fanny diem. Gue nggak tahu sih Fanny mikir apa, tapi kalo gue rasanya udah nggak sanggup jalan-jalan trekking pake sepatu lagi haha.
Akhirnya setelah dibicarakan, kami mau lanjut ke Bukittinggi besok. Nego dulu sama Uda yang kemarin antar kami. Dengan harga Rp575.000, kami deal diantar Uda lagi ke Bukittinggi. Kata Mas Itong sih sama aja, kalo naik travel cuma sampe Padang kan Rp450.000, terus naik kendaraan lagi ke Bukittinggi sekitar Rp25.000/orang. Ditambah lagi kalo kayak kemarin, dihitungnya penuh jadi kami bisa mampir ke tempat-tempat kece dulu selama perjalanan, jadi fix-lah rencana besok pagi.
Setelah deal, barulah yang lain pada mandi, kecuali Beny yang masih beresin barang-barangnya. Gue rapiin barang-barang juga, keluarin matras gue yang kotor dan ada lingkaran bekas trangia mini haha. Sewaktu Fanny lagi mandi, gue bilang sama Beny.
‘Ben, besok kan Fanny ulang tahun. Mau dikasih apa?’
‘Nah iya, gue juga lagi mikirin itu.’ kata Beny
Setelah mikir-mikir, akhirnya gue masak nutrijel yang kami bawa dan emang belum sempet dimasak. Terus nanti atasnya mau dikasih lilin besar haha. Beny gelar lapak memasak di deket kursi lantai atas, Mas Itong ikutan, Borok sama Fanny masih belum selesai mandi. Waktu gue lagi bersihin nisting, Fanny selesai mandi. Gue masak jelly dengan muka lempeng, Fanny duduk sebelah gue, lempeng juga. Selesai masak, gue sama Fanny sempet keluar, beli keperluan wanita terus makan bakso, ngidam semenjak sampai di Pintu Rimba tadi haha.
Sekitar jam 11 malam, Beny sama Mas Itong keluar, katanya mau cari sesuatu. Kami bertiga kumpul di kamar yang ditempati sama gue dan Fanny. Lagi asik ngobrol horor, tetiba mati listrik, selamat! Kami bertiga langsung diam haha. Cocok banget emang lagi ngomongin yang horor-horor terus mati lampu haha.
Listriknya baru nyala sekitar setengah jam kemudian. Gue udah setengah tidur, udah ngantuk dan capek banget, lupa kalo mau ngasih surprise buat Fanny haha. Yang gue inget setelah listrik nyala itu adalah Beny sama Mas Itong masuk kamar gue sama Fanny, Borok juga masih di situ, bawa nutrijel berdonat dengan sebatang lilin di atasnya haha. Gue langsung bangun, nyawa masih melayang-layang, bahkan nggak ngeh kalo udah ganti hari haha.
Setelah senyum-senyum, foto-foto, Fanny tiup lilin, video-video, terus potong-potong jelly. Ceng-cengin Fanny dikit, ngobrol dikit, terus mereka bertiga keluar kamar kami. Istirahat buat lanjut city traveling besok.

happy birthday Fanny :D

Day 5 – Selasa, 5 Maret 2013

Gue bangun sekitar jam 6, kamar sebelah masih pada anteng tidur sepertinya. Jam setengah 7, gue sama Fanny turun ke bawah, bawa sepatu sama barang-barang lain yang mau dicuci. Sepatu gue penuh tanah, gimana nggak, celana aja kotor begitu, apalagi sepatunya. Karena nggak menemukan sikat, gue merelakan sikat gigi yang baru gue beli sebelum berangkat kemarin dipake nyikat sepatu haha. Sekitar sejam kemudian gue baru beres bersihin sepatu sama mandi. Semuanya beres mandi, kami rapiin packing-an kami, carrier gue udah enteng banget, terus kami sarapan. Kami janjian sama Uda bakal dijemput jam 9, tapi sampai jam setengah 10 kami belum liat mobil Uda. Mas Itong telepon Uda, ternyata Uda sudah parkir di samping homestay dari jam 9, jadi mobilnya nggak terlihat haha.
Kami bayar homestay, termasuk makan selama di homestay dan tiket masuk taman nasional juga, Rp135.000/orang. Kami naikkan barang-barang ke dalam mobil terus pamitan sama orang-orang di homestay. Kali ini gue nggak duduk di antara kedua manusia yang berantem mulu itu lagi haha. Jam 10 kurang 5 kami berangkat dari homestay, gue dadah-dadah dalam hati sama Nci.
alamat homestay
Sekitar setengah jam jalan dari homestay, kami mampir di Air Terjun Telun Berasap. Jalan ke air terjunnya harus turun tangga, banyak banget pula anak tangganya. Gue ketawa-ketawa liat kami jalan, apalagi Borok haha. Mas Itong nyampe duluan di pondok tempat ngamatin air terjunnya, yang paling masih kuat jalan cuma Mas Itong kayaknya haha. Air terjunnya deras dan besar sekali, sampai terlihat seperti berasap.
Air Terjun Telun Berasap
Kami lanjut perjalanan, lewatin jalan ke Danau Gunung Tujuh, lewat Muaralabuh, lewat Solok Selatan. Di suatu daerah, di sekitar Solok, kami sempet berhenti, Uda ngantuk jadi minum kopi dulu di warung pinggir jalan. Lanjut perjalanan lagi ditemani lagu dari playlist-nya Uda, dari Whitney Houston sampe Iwan Fals. Lewatin bukit-bukit hijau yang cantik kemarin, lewatin tambang pasir, lewatin Danau Kembar dan tempat kami makan kemarin, dan akhirnya kami sampai di pertigaan Solok sekitar jam setengah 4 sore. Nggak jauh dari pertigaan Solok, kami mampir di rumah makan. Makan sore kali itu disponsori oleh Fanny haha.
Masuk ke Kota Solok, Borok diminta mampir ke rumah temennya di daerah situ. Setelah nyasar sana-sini, kami sampai di rumah temennya Borok itu, di daerah Lubuk Sikarah. Di sana nungguin ibunya temennya Borok pulang dulu, lumayan lama. Sekitar jam 6 kurang kami cabut dari Lubuk Sikarah, dari situ Bukittinggi sekitar 2 jam lagi.
Sunset kami sore itu adalah sunset di sepanjang Danau Singkarak :) Matahari tenggelam di sana sekitar jam 18:25, saat itu kami baru aja masuk di ujung jalan Danau Singkarak, pas banget. Jalan di sepanjang pinggir danau mulus banget, kata Uda sih semenjak ada event Tour de Singkarak jadi bagus. Kami sempet berhenti di pinggir danau, as usual, to take some frames hehe. Sayangnya warna sunsetnya kurang keluar.
Danau Singkarak
Sewaktu kami sudah lanjut jalan naik mobil lagi, baru deh warna-warna indah matahari terbenam di Singkarak keluar. Kami memandangi langit Singkarak dari dalam mobil yang dibawa cepat sekali sama Uda. Danau ini luaaas sekali, gue lihat di GoogleMap pun memang luas banget, dan yang jelas indah banget juga :)
warna sunset Singkarak 
Jalan di sepanjang pinggir danau ini lumayan panjang, ya danaunya juga kan luas banget. Sewaktu pinggiran danau sudah banyak rumah penduduk dan warung, kami berhenti lagi. Beny sama Fanny beli ikan bilih di kios oleh-oleh yang ada di situ, satu kilonya seharga Rp80.000. Gue cuma nyobain satu ekor, enak, kayak ikan asin gitu *eh iya kan ya? CMIIW hehe*
Perjalanan kami lanjut. Jam 8 malam kami sampai di Padang Panjang, kami makan lagi. Fanny pengen sate padang, kami mampir di Sate Mak Syukur. Dan gue kepedesan lagi. Sekian. Payah ah gue mah haha. Sekitar jam 9, kami sudah masuk Bukittinggi. Mas Itong ngarahin Uda ke Jam Gadang, kami mau turun di sana.
sate padang!
Dan akhirnya gue pun berada di landmark-nya Sumatera Barat juga, Jam Gadang, yeay! Kalo kata Beny sih artinya gue sudah officially ke Sumatera Barat haha. Kami turunin barang-barang dari mobil yang berhenti di depan Istana Bung Hatta yang ada di sebrang Jam Gadang itu. Dadah-dadah dan salam-salaman sama Uda yang malam itu langsung balik ke Jambi lagi, take care Uda!
Jam Gadang
Sekitar jam setengah jam kami sampai di sana, muncullah dua orang temannya Mas Itong yang juga temannya Eko, Mbak Fina sama Mas Hasnim. Selama di Bukittinggi kami nginap di rumah mereka. Sebelum ke rumah Mbak Fina sama Mas Hasnim, kami foto-foto dulu di depan Jam Gadang. Ada sesi sendiri, ada sesi Pasma, ada sesi tim Kerinci, ada sesi geng Bukittinggi, dan ada sesi pakai carrier biar gaya kan ceritanya city traveler haha. Kami nggak langsung pulang ke rumah, tapi makan (lagi) dulu. Tempat makannya di sekitar Jam Gadang, Baroena Warung Kupi & Mie Aceh. Yuhuu, mie aceh!
tim Kerinci di Bukittinggi :D
foto rusuh lagi :D
Selesai makan kesekian hari itu *kali ini dibayarin Mbak Fina pula* gue sama Fanny diantar ke rumahnya Mbak Fina. Fanny dibonceng Mbak Fina, gue dibonceng Mas Hasnim. Rumah Mbak Fina lumayan jauh dari Jam Gadang, kata Mas Hasnim lumayan jauh juga sama tempat mas-mas itu ntar nginap, yaitu rumahnya Mas Hasnim.
Sampai rumahnya Mbak Fina, gue sama Fanny gantian mandi. Sayangnya airnya masih aja dingin, haha, meskipun nggak sedingin Kresik Tuo. Gue mikir sendiri, ntar di rumah gue nggak akan males mandi lagi deh, kalo cuma gara-gara airnya dingin, nah ini di Sumatera gue mandi pake air dingin terus haha. Selesai mandi, kami istirahat. Fanny telepon Eko, bilang makasih soalnya berkat temennya Eko di mana-mana kami bisa dapet tumpangan hehe, terus cerita-cerita Kerinci. Beres telepon, kami tidur.

Day 6 – Rabu, 6 Maret 2013


Kami baru bangun tidur sekitar jam 8 pagi, haha. Setelah turun gunung memang nggak pernah lagi bangun pagi karena gue sama Fanny lagi libur shalat, yep gue kena pas banget begitu sampe puncak, sedangkan Fanny kena pas sampe shelter 1 waktu jalan turun. Kami mandi terus siap-siap jalan. Mbak Fina berangkat ngantor, kami masih nunggu kedatangan Beny, Borok, dan Mas Itong. Dari yang gue denger kemarin sih rencananya hari ini mau ke Ngarai Sianok sama Harau. Sampai jam 11 mereka belum jemput kami, soalnya mobil yang sedianya mau kami pinjam ternyata lagi dipakai.
Sambil nunggu kabar mobil, gue sama Fanny keluar rumah, cari brunchbreakfast lunch. Di depan jalan masuk kompleknya Mbak Fina kami nemu warung nasi. Makan lah di situ. Sewaktu mau bayar, kami gelagapan gegara nggak ngerti ibunya menyebutkan jumlah yang harus kami bayar dalam bahasa Minang haha. Ibunya ngerti terus ngomong pake bahasa Indonesia. Kebetulan di situ ada seorang bapak-bapak yang lagi nongkrong nampaknya. Dia nanya kami dari mana, kami bilang kami habis daki Kerinci. Eh si bapaknya langsung cerita kalau dia pernah ke Kerinci juga tahun 1994, bapaknya langsung cerita-cerita segala macam, kami manggut-manggut dan sesekali nimpalin.
Selesai makan, kami berdua balik lagi ke rumah Mbak Fina. Nggak lama kami nyampe rumah, Mas Itong telepon katanya mereka sudah berangkat mau jemput kami. Sekitar jam 12 siang, kami akhirnya berangkat buat jalan, yuhuu. Tujuan pertama kami hari itu adalah Lembah Harau. Lokasinya agak jauh karena nggak di Kota Bukittinggi, melainkan di Kabupaten Lima Puluh Kota, ngelewatin Kota Payakumbuh dulu. Nah karena lokasinya paling jauh, jadi kami ke sana dulu, kalau Ngarai Sianok dan yang lain-lain masih bisa besok sebelum pulang.
kece banget kan tuh tebingnya
Sekitar satu jam perjalanan dari Bukittinggi kami sampai di Kecamatan Harau, dengan Borok sebagai driver yang lagi latihan jadi supir travel Sumatera dan Mas Itong sebagai guide. Begitu masuk ke jalan menuju lembahnya, terlihatlah tebing-tebing kece di kejauhan. Kami masuk ke kawasan wisatanya, Mas Itong ngarahin ke tempat air terjun. Eh ternyata dari jauh sudah keliatan air terjunnya kering, cuma sedikit air yang terjun dari atasnya.
rumah gadang dengan background tebing
Kami putar balik terus berhenti sebuah tanah lapang. Di situ ada rumah gadang yang lagi dibangun, besar banget rumahnya. Di belakang rumah itu ada tebing yang kece banget, kami foto-foto. Naik mobil lagi, muter-muter di kawasan wisata situ. Mampir, foto, dan teriak-teriak di Lembah Echo-o-o-o *echo juga ceritanya*. Pokoknya mampir sana-sini, foto sana sini, heboh sana-sini.
lembah echo
Kami sempat istirahat minum sebentar di salah satu warung yang ada di situ. Sambil minum, Beny buka peta menuju Maninjau di GoogleMap, kata Mas Itong kalo ke sana bakal lewatin kelok 44. Pas lihat petanya, idih, liatnya aja mual, padahal gue nggak pernah mabok kalo lagi perjalanan haha. Kami cabut dari Harau sekitar jam 3. Borok menjalankan aksi supir travel Sumatera lagi haha.
lembah echo lagi
Lagi asik ngobrolin durian Sumatera, tetiba Borok minggirin mobil. Sekilas gue liat ada pedagang durian di pinggir jalan, kebetulan gue duduk di sebelah kiri jadi bisa lihat, muka gue langsung expressionless, mampuslah. Dan benar kan, mereka pada mau menyantap durian, ya ampun lah. Mas Itong turun duluan, langsung nanya ke ibu-ibu penjualnya. Habis nanya, Mas Itong duduk agak jauh dari durian-durian di display dagangan haha. Yak, bukan cuma gue yang musuhan sama durian di antara kami berlima hahaha.
Fanny, Borok, sama Beny heboh banget nawar sama milih durian sambil cengin gue sama Mas Itong yang cuma nyengir-nyengir kecut. Pas durian kesekian dibuka, ampunlah, bauuuuk banget, gue sama Mas Itong langsung lari keluar kios durian si ibu. Mereka ketawa-ketawa liat kami lari-lari. Entah setelah berapa durian mereka buka, akhirnya mereka minum air yang dituang ke kulit duriannya, katanya sih biar nggak bau. Naik mobil lagi, gue buka jendela lebar-lebar, Mas Itong di kursi depan juga buka jendela lebar-lebar.
Tadinya Mbak Fina sama Mas Hasnim mau gabung sama kami, tapi ternyata baru pada balik kantor jam 6 sore. Jadi kami lanjut perjalanan ke Maninjau. Kami nggak jadi lewat kelok 44 itu, lewat jalan lain yang ditunjukin Mas Itong. Kami balik ke Bukittinggi lagi, lewatin gua-gua buatan Jepang terus lewatin Ngarai Sianok. Terus lewat jembatan, nah dari jembatan itu kelihatan satu tebing muncul sendirian, namanya Tabiang Takuruang (Tebing Terkurung), unik dan kesepian.
Setelah lewatin jembatan sempet beli bensin dulu. Gue lupa siapa yang bilang, pokoknya istilahnya Pertamini haha. Jadi bensinnya bukan kayak bensin eceran yang biasa gue liat di Bogor. Pakai pompa dan selang macam di pom bensin biasa, tapi wadah bensinnya tuh tabung bening yang ada ukuran literannya gitu. Dari Ngarai Sianok lanjut ke jalan shortcut, awalnya jalannya kayak di antara tebing gitu, keren banget. Terus masuk ke jalan sempit, berkelok, dan banyak semak kayak waktu ke Jambi kemarin.
Pertamini :))
Borok seneng banget bawa mobil di jalan itu, gue sama Fanny heboh kalo dari arah berlawanan ada mobil, soalnya jalannya kan sempit banget. Jam setengah 6 kurang, kami sampai di Puncak Lawang, kami mau lihat Danau Maninjau dari atas. Puncak Lawang ini masuk daerah Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, yang juga merupakan tempatnya olah raga paralayang.
Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Kami menanti sunset di pinggir atas Danau Maninjau. Di sekitar spot sunset ada beberapa warung, kami makan indomie, ngopi, dan ngobrol-ngobrol sama yang punya warungnya, ternyata orang Ciamis *atau Ci-apa gitu ya, lupa gue hehe, pokoknya Sunda*. Kami duduk di kursi plastik reot di pinggir atas danau yang adalah spot buat liat sunset. 
ngindomie
Waktu sunset-nya datang kami semua sibuk foto-foto. Cuacanya sedikit berawan, menurut si Mamang yang punya warung itu, kalau lagi cerah, di belakang bukit di hadapan kami itu bakal kelihatan laut.
sunset Maninjau
Kami betah banget foto-foto siluet dengan background sunset-nya Maninjau sampai diusir sama yang jaga haha. Jam 7 kami cabut dari Puncak Lawang, udaranya berkabut. Jalannya semakin ngeri kalau sudah malam, sempit, banyak kelokannya, ditambah nggak ada lampu jalan juga. Kayaknya di Sumatera ini jarang ya, ada jalan lurus lempeng gitu kalo di daerah-daerah.
gue sukaa sekali sama foto ini :D
Sampai di Bukittinggi lagi, kami jemput Mas Hasnim terus jemput Mbak Fina. Kami makan malam di tempat pecel lele setelah bingung muter sana-sini haha. Selesai makan kami jalan ke arah pasar bawah Bukittinggi ngomongin durian lagi, dan yak, mereka makan durian lagi di pasar bawah, ampun ya. Gue sama Mas Itong memisahkan diri lagi, nongkrong di trotoar di belakang bapak yang jual duriannya. Gue bilang, ‘Aduh tadi siang orangnya cuma berlima, lah ini tujuh orang, matilah.’ Mas Itong ketawa miris mengiyakan ha ha.
Habis mereka semua makan durian lagi, kami lanjut jalan, bingung mau ke mana lagi, akhirnya ke Baroena lagi haha. Ngopi-ngopi, ngobrol-ngobrol, Fanny udah setengah tewas, matanya setengah terpejam. Akhirnya kami cabut dari situ sekitar jam setengah 12, sempet balik lagi karena botol minumnya Fanny ketinggalan. Kami diantar pulang ke rumah Mbak Fina. Gue nggak mandi lagi, ganti baju tidur terus langsung tidur, last night at West Sumatera :)